BOPM Wacana

Menkominfo: Cracker Lebih Berbahaya dari Hacker

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Ridho Nopriansyah

Menkominfo Tifatul Sembiring (tengah) didampingi Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho (kiri) dan Rektor USU Prof Syahril Pasaribu (kanan) diwawancarai usai mengisi kuliah umum 'Peluang Sumut Menjadi Cyber Province' di Auditorium, Jumat (22/3). | Andika Syahputra
Menkominfo Tifatul Sembiring (tengah) didampingi Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho (kiri) dan Rektor USU Prof Syahril Pasaribu (kanan) diwawancarai usai mengisi kuliah umum ‘Peluang Sumut Menjadi Cyber Province’ di Auditorium, Jumat (22/3). | Andika Syahputra

USU,wacana.org/arsip – Dalam cyber crime atau kejahatan dunia maya,cracker lebih berbahaya daripada hacker. Pernyataan ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Republik Indonesia, Tifatul Sembiring, Jumat (22/3) di Auditorium USU.

Tifatul melanjutkan, pada dasarnya baik cracker maupun hacker adalah peretas. Tetapi cracker adalah orang atau sekelompok orang yang mencari kelemahan suatu sistem untuk kemudian memasukinya serta mencuri, merusak, ataupun menghapus data pada sistem tersebut.Sesuai dengan UU ITE No.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik mengatur ancaman pidana tujuh tahun penjara bagicracker yang merusak sistem. Serta ancaman pidana 12 tahun penjara jika terbukti menjual data yang diretas pada satu sistem.

Sedangkan hacker adalah sebutan untuk orang atau kelompok orang yang memberikan sumbangan bermanfaat untuk dunia jaringan dan sistem informasi. Mereka membuat program bantuan untuk dunia jaringan dan komputer. Atau bisa juga digolongkan sebagai orang yang mampu mencari kelemahan suatu sistem untuk kemudian mencari solusi dan memperbaikinya. “Biasanya orang-orang seperti ini kita bina dan rekrut,” tambah Tifatul.

Masih menurut Tifatul, setiap hari ada ribuan kasus peretasan olehhacker dan cracker terhadap halaman-halaman milik pemerintah yang diretas dari seluruh penjuru dunia. “Akhir-akhir ini yang paling sering itu dari Cina,” papar Tifatul.

Sementara itu, Rektor USU menambahkan contoh kasus akibat ulahhacker terjadi ketika 123 situs departemen milik USU yang diretas pada awal tahun 2013 lalu.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).